Menanamkan Investasi Hari Esok Pada Anak

Usianya belum juga genap dua tahun. Tapi kalo dikasih minum, dia refleks duduk tanpa disuruh. Ini mungkin sepele, tapi ini salah satu sunnah yang coba kami tanamkan bahkan sejak ia belum tau apa-apa. Kakaknya dulu juga begitu, alhamdulillah si kakak masih istiqomah sampe usia enam tahun sekarang. Menutup aurat, mengawali sesuatu dengan basmalah, menjawab bersin dengan hamdalah, dan hal-hal sederhana lainnya yang disyariatkan, dan kami rasa sejauh ini gak memberatkan.

Apakah ini menunjukkan bahwa mereka anak didikan terbaik dari orang tua alim nan tepo seliro berbudi pekerti luhur yang dijamin kaplingan surga? Hadeh, gak gitu juga keles. Ini justru upaya kecil kami menanamkan investasi hari esok, agar kelak mereka menjadi syafaat bagi orangtuanya, karena kami sadari gak ada jaminan bisa menanggulangi dosa-dosa sendiri. Ya setidaknya kalo kami sudah gak ada, harapan kami mereka bisa menjadi anak sholehah yang mendoakan orangtuanya.

Atas dasar itu pula kami memberinya nama yang baik, Hafidzah dan Silmi Kaffah. Selain karena nama adalah doa, agar kelak mereka juga malu dengan sendirinya kalo gak bisa mempertanggungjawabkan arti dari namanya masing-masing.

Sebagai seorang bapak yang mencoba bijak, ada tiga masa yang gw kuatirkan dalam hidup ini. Masa yang pertama adalah masa lalu. Gw kuatir dosa ataupun kesalahan masa lalu gak bisa gw tebus dengan umur yang singkat andai gak bisa mendidik anak jadi sholeh atau sholehah. Sebejat-bejatnya orangtua, pasti pada hati kecilnya ini jadi suatu kekuatiran.

Masa yang ke dua adalah masa depan. Gw kuatir masa depan anak-anak gw bakal suram jika gak mendapat pendidikan agama yang memadai sejak dini.
Dan masa yang ke tiga adalah masa subur istri. Kalo yang ini gak perlu gw jelaskan. Gak enak euy sama yang jomblo. Hihihi...

Trus, apakah sekarang anak-anak gw benar-benar tumbuh menjadi anak yang manis-manis? Nggak juga sih. Ya, namanya anak-anak. Tetap saja sesekali membantah, melawan, ngamuk, nangis kejer, memukul, mencakar, menjambak, nendang, salto, split, kayang.. Eeh gak ding. Pokoknya ya gitulah. Kalo soal perilaku anak yang kayak gini gw yakin Kak Seto atau ayah Edi juga pasti nyerah.
Tapi ya namanya juga usaha. Kami tetap upayakan tanamkan apa yang kami bisa. Toh kami juga bukan orangtua suri tauladan yang sempurna. Gw sendiri masih suka lepas kontrol marah-marah, melototi mereka dengan wajah yang layak dizoom-in dan zoom-out dengan backsound drum roll dan pukulan cymbal. Masih doyan nunda-nunda sholat gegara keasyikan pegang hape. Ataupun sekadar mondar-mandir dalam rumah cuma pake kancut doang persis maling yang sedang mempraktekkan ilmu sirep. Hal-hal yang dont try this at home lah intinya.

Kenapa memproteksi anak dengan asupan doktrin rohani sejak dini gw anggap penting, gak lain karena mengingat saat ini pengaruh buruk bisa masuk dari celah mana saja. Dicegah lewat tontonan, malah menyusup lewat buku bacaan. Dicegah di bacaan, ternyata nunggu di playstore. Dicegah di playstore eeh menjemput di pengkolan, masuk lewat pergaulan teman-teman.

Suatu ketika si kakak pulang dengan membawa lagu baru yang salah satu liriknya: “Nobita pacarnya Shizuka”. Terang saja gw kaget. Jaman gw kecil dulu memang gw akui gak lebih baik dari mereka. Kami dulu sudah mulai rasis dengan lagu “hitam putih, yang hitam jadinya”, atau mengenal kesenjangan sosial dengan lagu “beta kaya kaya kaya, mariam to mariam”. Tapi perasaan gak ada deh lagu pacar-pacaran kayak sekarang.

Kami orang tua sekarang dituntut lebih strong dari superhero. Power Rangers atau Ksatria baja hitam mah musuhnya itu-itu saja. Power Rangers musuhnya paling banter Rita Repulsa. Tapi musuh kami akan datang tiap isi paket pulsa. Tantangan yang gw rasa paling berat adalah melindungi anak dari faham radikalisme, pelemahan akidah lewat toleransi yang kebablasan, serta penyesatan yang dibungkus kata manis cinta damai.

Kalo anak sudah bertanya soal teroris ataupun LGBT, gw kadang bingung gimana menjelaskannya. Rasanya ingin menggunakan pilihan phone a friend, fifty-fifty, atau ask by audience. Paling gw cuma bisa bilang “Kamu ngaji saja dulu yang rajin. Nanti kalo sudah besar papa kasih tau”. Case closed.

Btw, kadang gw sadari kalo posting soal anak yang ngaji, tadabbur, atau ikut program tahfidz, pasti ada saja yang anggap riya. Ya gak apa-apa lah, terserah saja, ini sudah resiko media sosial. Setidaknya gw berharap ada satu dua orang yang menangkapnya sebagai syiar. Syukur-syukur kalo bisa jadi motivasi.

Perlu jadi renungan bahwa bayaran guru les musik, seni, atau olahraga saat ini jauh lebih mahal ketimbang guru ngaji. Anehnya banyak orangtua yang bela-belain memprioritaskan itu demi anak.
Makanya ketika anak gw kurang berprestasi di bidang yang gw sebutkan itu, gw gak terlalu ambil pusing. Gw lebih kuatir kalo misalnya anak gw lebih hafal mars Perindo daripada surat al-Ikhlas, atau lebih tau lagu soundtrack Adit Sopo Jarwo ketimbang doa masuk WC.

Satu yang selalu gw tekankan ke anak: jika seseorang melampauimu dalam urusan dunia, maka lampaui dia dalam urusan akhirat.
Uhuy.. pasti ada yang mau ngomong, wah keren banget nih bapak. Hihi.. jangan tertipu coy. Ini quote bukan gw yang buat. Gw kutip juga, kalo gak salah dari Sayyidina Ali Bin Abu Thalib. Wallahu’alam.

sumber: https://www.facebook.com/arhamkendari/posts/10153567325084531:0

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menanamkan Investasi Hari Esok Pada Anak"

Post a Comment