MARI SUCIKAN HARTA dengan ZAKAT

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (Adz-Dzariyaat; 51:19)

Ayat diatas memberikan isyarat bahwa dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang yang seharusnya dibayarkan kepada yang berhak menerimanya. Bahkan pada hakekatnya apapun yang ada di tangan kita, tidak ada satupun yang milik kita, melainkan semuanya milik Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:
“Kepunyaan-Nya apa yang dilangit dan di bumi”. (Al-Baqarah; 2 : 255)

“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang diantara keduanya, dan semua yang dibawah tanah”. (Thahaa; 20 : 6)

Karena itu tiada alasan untuk tidak menafkahkan sebagian rezqi kita di jalan Allah. Bahkan pengeluaran untuk membayarkan hak orang lain yang ada dalam rezqi kita itu disamping menunaikan amanah, dan memenuhi perintah Allah SWT, sesungguhnya adalah juga untuk kebaikan kita sendiri sebagaimana firman Allah:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoakan untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar dan lagi Maha Mengetahui”. (At-Taubah; 9 : 103)

Dari ayat diatas dapat difahami bahwa dalam menunaikan hak orang lain tersebut, sesungguhnya kita memperoleh manfaat dalam bentuk:
1. pembersihan,
2. pensucian,
3. doa dan ketentraman jiwa.

Untuk semakin meningkatkan motivasi kita dalam mengeluarkan zakat dengan penuh keikhlasan marilah kita renungkan beberapa ayat berikut ini:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan menunaikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al-Bayyinah; 98 : 5)

“Adapun yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (Al-Lail; 92 : 5 – 11)

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada sesorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhan-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (Al-Lail; 92 : 17 – 21)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Ali Imran; 3 : 92)

Secara jujur kita perlu mengakui bahwa mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki, sesuai dengan perintah Allah, adalah sangat berat. Padahal harta yang ada pada kita hanyalah semata-mata titipan Allah, yang sewaktu-waktu bisa diambil-Nya kembali. Hal ini terjadi tidak lain adalah karena kita bakhil dan terlalu cinta harta (materialistis).

“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”. (Al’Aadiyat; 100 : 8 )

“Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu”. (Muhammad; 47 : 37)

Pada sisi lain kita sering dengan senang hati dan sukarela membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, dan bahkan adakalanya untuk hal-hal yang membawa mudharat, dan yang dilarang oleh Allah. Ini jelas merupakan suatu paradox (kalau keberatan untuk disebut pembangkangan) yang sangat mengherankan. Apakah kita sudah termasuk golongan orang yang fasiq?

Untuk hal-hal yang diperintahkan kita menafkahkan harta, kita enggan dan berat melakukannya. Kita menjadi kikir. Padahal kikir itu adalah sifat yang sangat dicela Allah dan akan dibalas dengan siksa yang pedih:

“Ingatlah kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka diantara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir itu sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)”. (Muhammad; 47 : 38)

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (At-Taubah; 9 : 34-35)

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan dibumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Ali-Imran; 3 : 180)

Sifat kikir yang adakalanya sangat menonjol dalam kehidupan kita, tidak lain adalah juga karena campur tangan syaitan.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah; 2 : 268)

Karena itu kita perlu senantiasa berjuang untuk melawan godaan syaitan tersebut, dengan tidak memperturutkan kecenderungan untuk kikir.

Demikian besar kemurkaan Allah atas orang-orang yang kikir (tidak mengeluarkan zakat), sehingga dalam Al-Quran Allah menisbahkan orang yang kikir itu sebagai orang syirik (karena telah mempertuhankan harta?)

“Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat”. (Fushshilat; 41 : 6-7)

Untuk mengatasi sifat kikir itulah Allah memberikan pendidikan dalam bentuk perintah menafkahkan sebagian rezqi dengan cara yang ikhlas. Kata kunci dari pengamalan ibadah ini adalah “ikhlas”, yaitu melakukannya semata-mata karena mengharap ridha Allah. Bukan karena mengharap pujian orang, dan bukan pula karena mengharapkan imbalan dari sesama manusia.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala disisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Baqarah; 2 : 262)

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”. (Al-Baqarah; 2 : 264)

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Baqarah; 2 : 271)

“Orang-orang yang menafkahkan harta-hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala disisi Tuhan-nya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Baqarah; 2 : 274)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Al-Baqarah; 2 : 267)

Semoga Allah senantiasa membukakan hati kita dan menumbuhkan keikhlasan untuk dapat melaksanakan semua kebaikan dan menghindarkan semua keburukan.


sumber: buyanur.com/2010/09/01/mari-sucikan-harta/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MARI SUCIKAN HARTA dengan ZAKAT"

Post a Comment