Nurani Sang Pemimpin

Oleh Dr Abdul Mannan

Di suatu malam, Umar bin Khattab yang ditemani seorang pengawalnya melakukan sidak dengan berjalan kaki. Di sebuah rumah yang cukup gelap, Umar mendengar suara tangisan seorang perempuan. Umar pun berusaha mendekati sumber suara tangisan itu untuk mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi.

"Wahai Ibu, apakah yang menjadikanmu menangis di tengah malam seperti ini?" tanya Umar. Perempuan itu pun menjawab, "Sudah dari tadi anak saya menangis karena lapar, sementara tak sebiji gandum pun yang aku punya. Dan, sekarang mereka tertidur karena sudah terlalu lelah menunggu makanan," jawabnya sambil terus menyeka air matanya.

Melihat tungku menyala, Umar bertanya, "Apa yang sedang ibu rebus itu?" Sang perempuan menjawab. "Itu batu, bukan makanan. Setiap kali anak-anakku meminta makan, saya katakan sebentar lagi Nak, makanannya belum matang. Itu terpaksa aku lakukan, supaya anakku terhibur dan bisa tidur di malam ini."

Mendengar jawaban sang ibu, Umar pun pamit dan bergegas menuju baitul mal. Sampai di Baitul Mal, Umar mengambil sekarung gandum dan memikulnya sendiri. Melihat sang khalifah memikul gandum, pengawalnya berusaha memberikan tawaran kepada Umar agar gandum itu diberikan kepadanya. Dengan singkat Umar menjawab, "Apa kamu sanggup memikul dosa-dosaku di akhirat nanti."

Itulah sekelumit perjalanan seorang Umar, khalifah kedua yang penuh inspirasi dan tetap terkenang sepanjang sejarah. Gagah berani di medan pertempuran, lemah lembut terhadap istri dan anak-anak, serta penuh kasih sayang kepada seluruh rakyatnya. Jangankan manusia, dalam satu riwayat Umar pernah berkata, "Kalau ada kambing yang terperosok lalu mati disebabkan jalan yang rusak, Umarlah yang bertanggung jawab dunia akhirat!"

Demikianlah pemimpin yang bernurani. Sosoknya senantiasa mengutamakan rakyatnya dari pada diri dan kepentingan kelompoknya. Bukan saja manusianya, tetapi seluruh aset rakyatnya, termasuk binatang ternak, sawah, dan ladangnya.

Nurani seorang pemimpin mendorong jiwa raganya untuk bergerak memperjuangkan hak-hak rakyatnya, khususnya rakyat yang hidup dalam keadaan serba kesusahan. Siang dan malam digunakan sepenuhnya untuk bisa membebaskan rakyatnya dari kemiskinan, kebodohan, dan penjajahan. Apabila pemimpin bernurani akan selalu dicintai, dirindukan kehadirannya maka sebaliknya, pemimpin yang tidak bernurani akan selalu dibenci oleh seluruh umat manusia, bahkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Pemimpin yang tidak memperhatikan nasib rakyatnya dengan sungguh-sungguh, suka berbelanja dengan uang rakyat, bermegah-megahan, sering kenyang lebih dahulu dan menangis belakangan, itulah pemimpin yang suka berdusta yang telah membeku nuraninya.

Terhadap pemimpin seperti itu, Alquran memberikan peringatan keras bahwa siapa saja yang mengaku beriman tetapi tidak peduli terhadap derita kaum papa, maka mereka itu adalah orang yang termasuk kelompok pendusta agama. "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS al-Ma'un [107]: 1-3). Wallahu a'lam.

sumber: http://koran.republika.co.id/koran/25

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nurani Sang Pemimpin"

Post a Comment