Hak Bayi Mendapatkan ASI (Air Susu Ibu)

                                                      Oleh Khofifah Indar Parawansa
Dalam sejarah Islam, selain ibunda Rasulullah SAW, Siti Aminah, nama lain yang cukup populer adalah Halimatus Sa'diyah, ibu susu Rasul SAW. Pengorbanannya dalam mendidik dan merawat Rasulullah SAW membuat namanya terukir dengan tinta emas. Kisahnya dalam merawat dan mendidik Nabi Muhammad SAW saat masih bayi patut menjadi teladan bagi Muslimah hingga akhir zaman.

Ketika sebagian besar wilayah Jazirah Arab dilanda krisis dan musim paceklik (kemarau) yang panjang, membuat kehidupan ekonomi masyarakat memburuk. Berbagai upaya pun dilakukan oleh masyarakatnya untuk memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk keluarga Bani Bakr dengan mencari bayi untuk disusui.

Dikisahkan, Halimatus Sa'diyah awalnya sempat menolak menyusui Rasul SAW karena berasal dari keluarga tidak mampu atau anak yatim. Penolakan itu karena khawatir upahnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, air susu Halimah sempat dinyatakan tidak mencukupi untuk menyusui Nabi Muhammad. Namun karena berharap berkah, Halimah yang belum juga mendapat bayi susuan akhirnya menerima bayi Muhammad dengan ikhlas.

Saat itulah terjadi banyak hal menakjubkan. Kekhawatiran air susu Halimah yang sedikit malah sangat banyak. Tidak hanya untuk menyusui Nabi Muhammad, anak kandungnya pun dapat tidur pulas tidak seperti biasanya karena pemberian ASI yang mencukupi. Hal menakjubkan lainnya, Halimatus Sa'diyah mendapati tanah dan tumbuhan di sekitar tempat tinggal Bani Bakr menjadi subur. Halimah pun menjadi makin sayang kepada Muhammad SAW. Ia pun menganggap Muhammad sebagai anaknya sendiri. Kedekatan Halimah dan Rasulullah membuatnya enggan berpisah. Ia pun meminta izin kepada ibunda Rasulullah SAW agar mengizinkannya kembali mengasuh Nabi Muhammad walau sudah disapih saat usia dua tahun.

Kisah di atas mengingatkan kita sebagai ibu akan pentingnya menyusui untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi. Demikianlah pesan Alquran akan hak menyusu bagi seorang anak dan kewajiban ibu untuk menyusuinya, serta kewajiban ayah untuk mencukupi kebutuhan mereka. (QS al-Baqarah [2]: 233).

Jika karena alasan tertentu seorang ibu tidak bisa menyusui anaknya, suami bertanggung jawab untuk mengupah orang lain untuk menyusui anaknya. Lihat QS at-Thalaq [65]: 6. Tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik kepada mereka, karena Islam memberikan banyak jalan keluar untuk mencintai dan menjaga anak-anak hingga mereka tumbuh sebagai generasi yang sehat dan unggul.

Dalam berbagai kajian ilmu kesehatan, ASI dapat mengandung berbagai kebutuhan bayi, seperti protein, vitamin, dan zat besi, yang semuanya sudah tercampur dalam kadar yang seimbang. ASI juga mudah dicerna, sehingga jarang menimbulkan gangguan pencernaan. Menyusui memberikan manfaat psikologis kepada bayi karena dapat mendekatkan anak dengan ibunya.

Selain itu, ASI juga dapat meningkatkan kecerdasan anak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ 4,3 poin lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 poin lebih tinggi pada usia tiga tahun, dan 8,3 point lebih tinggi pada usia 8,5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.


sumber: http://koran.republika.co.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hak Bayi Mendapatkan ASI (Air Susu Ibu)"

Post a Comment